Suasana Yang Terjadi Saat Proklamasi Dikumandangkan

Bisacumlude Haloo haloo haloo haloo para generasi milenial yang cerdas dan mandirii… Jumpa lagi dalam postingan artikel kita kali ini yang tentunya bahasan pada postinngan rtikel kita kali ini, tidak akan kalah menarik dari bahasan – bahasan postingan artikel kita sebelum – sebelumnya, pada postingan artikel kita kali ini, kita akan membahas mengenai ” Suasana Yang Terjadi Saat Proklamasi Dikumandangkan ” .. Semoga informasi yang kita sampaikan dapat bermanfaat dan tentunya dapat menambah pengetahun para pembaca… Selamat membaca…. πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Proklamasi Berkumandang

Pada pukul 5 pagi tannggal 17 Agustus 1945 para pemimpin dan pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda dengan diliputi kebanggaan. Mereka telah sepakat untuk dapat memproklamasikan kemerdekaan di rumah Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 pada pukul 10 pagi. Sebelum pulang Moh. Hatta berpesan kepada B.M Diah untuk dapat memperbanya teks proklamasi dan menyiarkannya ke seluruh dunia. Sementara itu para pemuda tidaklah langsung pulang, mereka melakukan kegiatan – kegiatan untuk penyelenggaraan pembacaan naskah Proklamasi. Masing – masing kelompok pemuda menngirim kurir untuk dapat memberitahukan kepada masyarakat bahwa saat Proklamasi telah tiba. Semua alat komunikasi yang ada digunakan untuk penyambutan Proklamasi. Pamflet, pengeras suara dan mobil – mobil dikerahkan ke segenap penjuru kota. Tanpa diduga – duga pada hari itu barisan pemuda berbondong – bondong menuju lapangan Ikada. Para pemuda datang ke tempat itu, karena informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut bahwa Proklamasi akan diselenggarakan di Lapangan Ikada. Rupanya Jepang telah mencium kegiatan para pemuda malam itu, sehingga mereka berusaha untuk menghalang – halanginya. Lapangan Ikada telah di jaga oleh pasukan Jepangyanng bersenjata lengkap. Oleh karena itu Proklamasi tidak diselenggarakan di lapangan Ikada, tetapi dilaksanakan di Jl. Pegangsaan Timur No. 56.

Baca Juga  Sejarah dan Peristiwa Perumusan Teks Proklamasi

Pada pagi hari itu juga, rumah Soekarno dipadati oleh sejumlah massa. Untuk menjaga keamanan upacar pada pembacaan Proklamasi, dr. Muwardi meminta Latief Hendraningrat beserta beberapa anak buahnya untuk dapat berjaga – jaga di sekitar rumah Soekarno. Sementara itu wali kota Jakarta Suwiryo memerintahkan kepada Wilopo untuk dapat mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk dapat menyiapkan bendera dan sekaligus mencari tiang bendera S. Suhud mendapatkan bendera merah putih dari Ibu Fatmawati. Bendera dijahit oleh Ibu Fatmawati sendiriΒ  dan ukurannya sangat besar dan tidak standar. Bendera merah putih yang dijahit oleh ibu Fatmawati dikenal dengan sebutan bendera pusaka. Sejak tahun 1969 tidak lagi dikibarkan dan diganti dengan bendera duplikat. Sementara tiang bendera menggunakan sebatang bambu.

Sejak pagi hari sudah banyak orang yang berdatangan di rumah Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Tokoh – tokoh yang sudah hadir antara lain: Mr. A.A Maramis, dr. Buntara Martoadmoj, Mr. Latuharhary, Abikusno Cukrosuyoso, Otto Iskandardinata, Ki. Hajardewantoro, Sam Ratulangi, Sartono, Sayuti Melik, Pandu Kartawiguna, M. Tabrani, dr. Muwardi dan AG. Pringgodigdo. Acara yang direncanakan pada upacara bersejarah itu adalah: pembacaan teks proklamasi, pengibaran bendera merah putih dan sambutan wali kota Suwiryo dan dr. Muwardi dari keamanan. Hari jumat legi, tepat pukul 10.00 WIB, Soekarno dan Moh Hatta keluar ke serambi depan diikuti oleh Ibu Fatmawti, Soekarno dan Moh. Hatta lalu maju beberapa langkah. Soekrno mendekatkan mikrofonuntuk membacakan teks proklamasi. Acara berikutnya adalah pengibaran bendera merah putih yang dilakukan oleh Latief Hendraningrat dan S. Suhud. Bersamaan dengan naiknya bendera merah putih, para hadirin secara sepntan menyanyikn lagu Indonesia Raya tanpa ada yang memimpin. Setelah itu Suwiryo memberikan sambutan dan kemudian yang disusul sambutan oleh dr. Muwardi. Sekitar pukul 11.00 WIB upacara selesai. Kemudian dr. Mawardi mnunjuk beberapa anggota barisan pelopor untuk menjaga keselamata Soekarno dan Moh. Hatta.

Baca Juga  Latar Belakang Terjadinya Peristiwa Rengasdengklok

Dukungan Dari Berbagai Lapisan

Pada tanggal 22 Agustus 1945, Jepang akhirnya secara resmi mengumumkan penyerahannya kepada sekutu. Barulah pada bulan September 1945 Proklamasi diketahui di wilayah – wilayah yang terpencil. Keempat penguasa kerajaan yang ada di wilayah Jawa Tengah menyatakan dukungan mereka kepada Republik, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Pakualaman dan Mangkunegara. Para komdan pasukan Jepang yag berada di daerah – daerah seringkalli meninggalkan wilayah perkotaan dan menarik mundur pasukan ke daerah pinggiran guna untuk menghindari konfrontasi. Antara tanggal 3 sampai dengan 11 September 1945 para pemuda di Jakarta mengambil alih kekuasaan atas stasiun – stasiun kereta api, sistem listrik dan stasiun pemancar radio tanpa mendapat perlawanan dari pihak Jepang. Pada akhir bulan September instalasi – intalasi penting di Yogyakarta, Surakarta, Malang dan Bandung juga sudah berada di tangan pemuda Indonesia.

Banyak pemuda bergabung dengan badan – badan perjuangan. Di Sumatera mereka benar – benar memonopoli kekuasaan revolusioner. Karena jumlah pemimpin nasionalis yang sudah mapan disana hany segelintir, mereka ragu terhadap apa yang akan dilakukan. Proklamasi kemerdekaan akan disebarluaskan melalui radio, tetapi Jepang menentang penyiaran tersebut, dan malah memerintahkan agar para penyiar meralat berita proklamasi sebagai sesuatu kekeliruan. Tampaknya para penyiar tidak mau memenuhi seruan perintah Jepang. Oleh karena itu pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancarnya disegel dan para pegawainya dilarang masuk. Mereka kemudian kahirnya membuat pemancar baru di Menteng 31. Di samping melalui siaran radio para wartawan juga menyebarluaskan berita proklamasi melalui media cetak, seperti surat kabar, selebaran serta penerbitan – penerbitan yang lain.

Pada tanggal 3 September 1945 para pemuda mengambil allih keeta api termasuk bengkel di Manggarai. Tanggal 5 September 1945 gedung radio Jakarta dapat juga dikuasai. Pada tanggal 11 September 1945 seluruh jawatan radio berhasil dikuasai oleh Republik. Oleh karena itu pada tanggal 11 September dijadikan sebagai hari lahir Radio Republik Indonesia (RRI). Sedangkan pada tanggal 19 Agustus 1945 itu juga Sri Sultan Hamengkubuono IX dan Sri Paku Alam VIII telah mengirim kawat ucapan selamat kepada Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta atas berdirinya negara Republik Indonesia dan atas terpilihnya dua tokoh tersebut sebagai Presiden danWakil Presiden. Ucapan selamat itu tersirat bahwa Sri Sultan Hamengkubuono IX dan Paku Alam VIII mengaku kemerdekaan RI dan siap membanntu mereka. Kemudian sekitar pukul 10.00 pagi tanggal 19 Agustus 1945 Sri Sultan Hamengkubuono IX mengundang kelompok – kelompok pemuda dibangsal kepatihan.

Baca Juga  Memahami Isi Ceramah: Bagian, Aspek serta Struktur

Kemudian untuk mempertegas sikapnya, Sri Sultan Hamengkubuono IX dan Sri Paku Alam VIII pada tanggal 5 September 1945 mengeluarkan amanat antara lain sebagai berikut:

  1. Negara Ngayogyakarta Hadiningrat bersifat kerajaan dan merupakan daerah istimewa dari negara Indonesia.
  2. Sri Sultan sebagai kepala daerah dan memegang kekuasaan atas Negara Ngayogyakarta Hadiningrat.
  3. Hubungan antara Negaa Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah pusat Negara Republik Indonesia. Sultan selaku kepala daerah istimewa bertanggunng jawab kepada Presiden.

Demikianlah informasi yang dapat kita sampaikan pada postingan artikel kita kali ini dengan bahasan tentang ” Suasana Yang Terjadi Saat Proklamasi DikumandangkanΒ ”Β … Semoga bahasan yang ada pada postingan artikel kita kali ini dapat menambah wawasan dan dapat bebrmanfaat bagi para generasi milenial yang cerdas mandiri untuk mengetahui lebih banyak informasi lainnya. Stay teruss pada postingan kami selanjutnya, tetap kunjunngi website bisacumlaude.com karena akan selalu ada materi – materi menari lainnnya… πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Berikut Artikel Terkait Lainnya