Jenis Organisasi Semimiliter Pada Zaman Pemerintahan Jepang

Bisacumlude Haloo haloo haloo haloo para generasi milenial yang cerdas dan mandirii… Jumpa lagi dalam postingan artikel kita kali ini yang tentunya bahasan pada postinngan rtikel kita kali ini, tidak akan kalah menarik dari bahasan – bahasan postingan artikel kita sebelum – sebelumnya, pada postingan artikel kita kali ini, kita akan membahas mengenai ” Jenis Organisasi Semimiliter Pada Zaman Pemerintahan Jepang ” .. Semoga informasi yang kita sampaikan dapat bermanfaat dan tentunya dapat menambah pengetahun para pembaca… Selamat membaca…. 🙂 🙂 🙂 🙂

Pengerahan Tenaga Pemuda

Kelompok pemuda memegang peranan penting di Indonesia, apalagi jika melihat jjumlahnya yang cukup besar di Indonesia. Menurut penilaian Jepang, para pemuda yang tinggal pada daerah pedesaan belum terpengaruh dengan pemikiran barat. Mereka secara fisik cukup kuat, semangat dan juga pemberani. Oleh sebab itu, perlu dikerahkan untuk membantu memperkuat posis Jepang di dalam menghadapi perang. Sebelum secara resmi Jepang membentuk organisasi – organisasi semimiliter, Jepanng telah melatih para pemuda untuk menjadi pemuda yang disipllin, memiliki semangat juang yang tinggi dan juga memiliki jiwa ksatria yang tinggi. Salah satu cara untuk menanamkan nilai – nilai tersebut kepada kaum muda adalah dengan diadakannya pendidikan, baik itu pendidikan umum ataupun pendidikan khusus. Pendidikan umum seperti sekolah rakyat dan sekolah menengah. Sedangkan untuk pendidikan khusus adalah latihan – latihan yang diadakan oleh Jepang. Latiahn – latihan yang diadakan oleh Jepang antara lain: BPAR (Barisan Pemuda Asia Raya). BPAR atau Barisan Pemuda Asia Raya tingkat pusat yang ada di Jakarta diresmikan pada tanggal 11 Juni 1942 dengan pimpinannya dr.dan S.A. Saleh. Program latihan BPAR diadakan dalam jangka waktu tiga bulan dan jumlah peserta tersebut tidak dibatasi.

Baca Juga  Organisasai Militer Zaman Pendudukan Jepang

Selain BPAR Jepang juga membentuk wadah latihan yang disebut dengan San A Seinen Kutensho di bawah Gerakan Tiga A yang diprakarsai oleh H. Shimuzu dan Wakabayashi. Di dalam San A Seinen Kutensho latihan diadakan selama satu bulan. Latihan – latihan tersebut bersifat khusus yaitu ditujukan kepada para pemuda yang sudah pernah aktif di dalam organisasi, mislanya saja kepanduan. Selain itu pemuda diajarkan bahasa Jepang. Tahap pertama pelatihan sebanyak 250 orang. Meskipun telah dibentuk San A Seinen Kutensho perkumpulan kepanduan juga tetap masih diadakan, misalnya Perkemahan Kepanduan Indonesia yang diadakan di Jakarta. Gerakan kepanduan merupakan wadah yang cukup baik untuk membina kader yang penuh semagat dan disipliin. Perkumpulan ini pernah dikunjungi oleh Gunseikan dan juga tokoh empat serangkai dari orgaisasi PUTERA.

Organisasai Seinendan

Seinendan atau Korps Pemuda adalah suatu organisasi para pemuda yang berusia 14 sampai dengan 22 tahun ota seinendan berannggotakan sekitar 3.500 pemuda dari seluruh Jawa. Tujuan dibentuknya seinendan adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda untuk dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Bagi Jepang, untuk mendapatkan tenaga cadangan guna memperkuat usaha dalam mencapai kemenang dalam perang Asia Timur Raya perlu diadakannya pengerahan kekuatan pemuda. Oleh karena itu, Jepang melatih kekuatan pemuda atau para remaja melalui organisasai Seinendan. Dalam hal ini seinendan difungsikan sebagai barisan cadangan yang mengamankan garis belakang.

Pengkordinasian kegiatan seinendan ini diserahkan kepada penguasa setempat. Misalnya saja untuk di daerah tingkat syu, ketuanya syucukan sendiri. Begitu juga halnya di daerah ken, diketuai oleh kenco sendiri dan seterusnya. Untuk dapat memperbanyak jumlah anggota seinendan, Jepang juga menggerakan seinendan bagian puteri yang disebut josy seinendan. Sampai pada akhir masa pendudukan Jepang, jumlah anggota sinendan itu mencapai sekitar 500.000 pemuda. Adapun tokoh – tokoh Indonesia yang pernah menjadi anggota seinendan antara lain: Sukarni dan Latif Hendraningrat.

Baca Juga  Sejarah Saat Proklamasi Berkumandang

 

Keibodon

Organisasi Keibodon atau Korps Kewaspadaan merupakan organisasi jenis semimiliter yang anggotanya para pemuda yang memiliki usia di antara 25 sampai dengan 35 tahun. Ketentuan utama untuk dapat masuk kwibodan adalah mereka yang berbadan sehat dan memiliki kelakuan yang baik. Apabila dilihat dari usianya para anggota keibodan sudah lebih matang dan siap untuk dapat membantu Jepang dalam hal keamanan dan ketertiban. Pembentukan keibodan ini memang dimaksudkan untuk dapat membantu tugas polisi misalnya menjaga lalu lintas dan pengamanan desa, untuk itulah anggota keibodan juga dilatih militer. Pembina keibodan adalah departemen kopilisian dan daerah syu dibina oleh bagian kepolisian. Di kalangan orang – orang Cina juga dibentuk keibodan yang dinamakan kakyo keibotai.

Barisan Pelopor

Pada pertengahan tahun 1944 diadakan rapat chuo – sangi – in (Dewan Pertimbangan Pusat). Salah satu keputusan hasil rapat tersebut adalah merumuskan cara untuk menumbuhkan keinsyafan dan kesadaran yang mendalam dikalangan rakyat untuk dapat memenuhi kewajiban dan membangun persaudaraan untuk seluruh rakyat dalam rangka mempertahankan tanah airnya dari serangan musuh. Sebagai wujud konkret dari kesimpulan rapat tersebut maka pada tanggal 1 November 1944 Jepang membentuk organisasi baru yang dinamakan Barisan Pelopor. Melalui organisasi inilah diharapkan adanya kesadaran rakyat untuk dapat berkembang sehingga sudah siap untuk dapat membantu Jepang dalam mempertahankan Indonesia. Organisasi semimiliter Barisan Pelopor ini tergolong unik dikarenakan pemimpinnya adalah seorang nasionalis, yaitu:Ir. Soekarno yang dibantu oleh R.P Suroso, Otto Iskandardinata serta Buntaran Martoatmojo. Barisan Pelopor ini berada di bawwah naungan Jawa Hokokai yang anggotanya mencapai 600.000.

Hizbullah

Pada tanggal 7 September 1944, PM Jepan, Kaiso mengeluarkan janji tentang kemerdekaan untuk Indonesia. Sementara keadaan yang terjadi di medan perang, Jepang mengalami berbagai kekalahan. Jepang mulai merasakan berbagai kesulitan. Keadaan tersebut akhirnya memicu Jepang untuk menambah kekuatan yang telah ada. Jepang merencanakan untuk membentuk pasukan cadangan khusus dan pemuda – pemuda islam sebanyak 40.000 orang. Oleh karena itu, pada tanggal 15 Desember 1944 berdiri pasukan sukarelawan pemuda islam yag dinamakan Hizbullah (Tentara Allah) yang di dalam istilah Jepangnya disebut dengan kaikyo teishinti. Adapun tugas – tugas pokok Hizbullah adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai tentara cadangan dengan tugas: (a) Melatih diri jasmani maupun rohani dengan segiat – giatnya. (b) Membantu tentara dainippon. (c) Menjaga bahaya udara dan mengintai mata – mata musuh. (d) Menggiatkan dan menguatkan usaha – usaha untuk kepentingan – kepentingan perang.
  2. Sebagai pemuda islam, dengan tugas: (a) Menyiarkan agama islam. (b) Memimpin umat islam agar taat menjalankan agama. (c) Membela agama dan umat islam.
Baca Juga  Organisasi Pergerakan Masa Pendudukan Jepang

Untuk dapat mengoordinasikan program dan kegiatan yang akan dilakukan oleh organisasi Hizbullah maka dibentuklah pengurus pusat organisasi Hizbullah. Ketua pengurus pusat Hizzbullah yang diketuai oleh K.H Zainul Arifin dan sebagai wakil pengurus organisasi Hizbullah adalah Moh. Roem. Sedangkan untuk anggota pengurus Hizbullah antara lain, yaitu: Prawoto Mangunsaswito, Kiai Zarkasi dan Anwar Cokroaminoto.

Demikianlah informasi yang dapat kita sampaikan pada postingan artikel kita kali ini dengan bahasan tentang ” Jenis Organisasi Semimiliter Pada Zaman Pemerintahan Jepang ” … Semoga bahasan yang ada pada postingan artikel kita kali ini dapat menambah wawasan dan dapat bebrmanfaat bagi para generasi milenial yang cerdas mandiri untuk mengetahui lebih banyak informasi lainnya. Stay teruss pada postingan kami selanjutnya, tetap kunjunngi website bisacumlaude.com karena akan selalu ada materi – materi menari lainnnya… 🙂 🙂 🙂 🙂

Berikut Artikel Terkait Lainnya